Sunday, 15 March 2015

Sementara Hujan

Gong telah dibunyikan.
Aku diam, tak berani menyaksikan.

Pertunjukan segera dimulai.
Panggung gemetar.
Bangku penonton bersorak.
Sutradara bersiap.
Lighting dinyalakan.
Namun aku?
Hanyalah penonton yang ngeri melihat aktor berunjuk peran.
Tak disangka,
ada yang jatuh terperosok lunglai
pertunjukan belum berlangsung barang semenitpun.
Itu, Aku.
Butuh udara sebagai teman di luar pentas..

Sore kala itu..
Hujan tak hentinya menyerbu sekitaran.
Badan itu panas memaksa memelukku agar hangat
kemudian kusambut dengan sedianya membuka kedua tanganku
hanya untuk menerima sepelukan cinta dari hangat tubuhnya.
Siapa yang tak rasakan nyaman?
Hingga kuterlelap tidur dibahunya
yang menyeka hampir sekeranjang air mataku yang tumpah tak dibendung.
Payah, tak bisa menyangganya sendiri.

Tak kukira akan menjadi seperti ini.
Didepanku terpampang cermin yang memantulkan kusut rambutku.
Senyum pahit memoles raut wajahku yang memang sudah begini.
Raut itu kembali
Aku gagal lagi?
...
Diam semakin menyudutkan segala kesalahanku.

No comments:

Post a Comment

© Asri Nuranisa Dewi
Blogger Template Designed by pipdig