Saturday, 17 December 2016

Perempuan Warga Kelas Dua?


Kali ini saya benar-benar tertarik membahas tentang perempuan. Kebetulan bahasan ini adalah hasil debat sengit dengan mas pacar yang anti-feminis. Semuanya berawal dari obrolan ringan di mobil yang kusinggung mengapa perempuan selalu dijadikan objek dalam berbagai hal, namun hal itu langsung ia bantah dengan argumen pendukungnya. Oh ternyata tidak cukup berhenti sampai disitu, mas pacar terus mencari tahu semua hal yang berkaitan dengan feminisme (berikut argumen pendukungnya) hingga di hari yang lain ia memberikan suatu tontonan yang memicuku untuk mendebatnya lagi, ya cukup membuatku bete -intermezzo- Ini dia videonya:

\

Di video tersebut tepatnya di negara Kyrgyzstan, ada sebuah budaya "Bride Kidnapping". Budaya ini merupakan suatu tradisi pernikahan, dimana jika ada lelaki yang ingin menikah harus menculik calon pengantin perempuan di jalanan kemudian membawa perempuan itu ke rumahnya. Sang ibu
dari pihak lelaki dan saudara-saudaranya meyakinkan perempuan itu bahwa ia akan menikahkan anak lelakinya dengan si perempuan. Mereka beranggapan bahwa menikahi anak lelakinya merupakan keputusan yang tepat (yap meskipun lelaki itu orang asing bagi si perempuan, mau tidak mau perempuan itu 'harus' menerima). Entah saya miris sekaligus terkaget-kaget menontonnya.

Dari video tersebut, tampak jelas bahwa ada beberapa perempuan yang sangat tidak nyaman bahkan tidak berterima dengan "penculikan" itu, Seolah-oleh perempuan di sana tidak memiliki hak untuk menentukan pilihannya sendiri. Mengapa lelaki berhak memilih siapa saja, sedangkan perempuan tidak. Lagi-lagi perempuan dijadikan objek, seolah perempuan tidak bisa bertindak sebagai pelaku tapi hanya sebagai penderita saja, Jika berbicara tentang "hak", hak perempuan dalam menentukan hal yang se-krusial pernikahan sudah direnggut oleh kukungan budaya. Sayangnya, jika sudah berbenturan dengan konsep "budaya" mungkin akan sulit mengubah stigma yang sudah melekat di masyarakat, meskipun ada beberapa orang yang sudah keberatan dengan budaya tersebut, masyarakat yang lain hanya bisa bilang "ya sudah, biarkan saja, ini kan budaya kita," Sangat disayangkan, mengapa sistem budaya yang memberatkan suatu pihak masih saja dipertahankan? Ya, memang sulit sekali. Perempuan sudah sepantasnya memiliki hak untuk memilih dan menentukan pilihan hidupnya layaknya laki-laki yang bebas menentukan pilihannya sendiri. Satu hal yang kukagumi dari video tersebut, masih ada masyarakat yang mau berbicara dan mengutarakan ketidakberterimaannya. Syukur tidak hanya perempuan bahkan ada laki-laki yang ikut menyuarakan pendapatnya. Kita sebagai wanita, alangkah lebih baik jika tidak menelan sesuatu secara utuh, kita perlu untuk memikirkan dan menganalisis dari berbagai sudut pandang. Tidak ada salahnya kita patuh terhadap budaya tapi akan jadi salah jika kita hanya berterima dan sama sekali tidak mengkritisi hal-hal yang bisa saja merugikan (dalam kasus ini perempuan). Dari semua hal di atas mau bagaimana pun memang kembali lagi pada diri sendiri. Saya percaya, masyarakat, baik itu laki-laki maupun perempuan yang well educated akan memahami betul bahwa perempuan itu bukan sebatas objek nafsu keegoisan beberapa lelaki yang senang mendominasi dan stigma beberapa masyarakat yang terkadang selalu berbuat seenaknya karena menganggap perempuan itu identik dengan kelemahan, sehingga sering dianggap sebagai warga kelas dua. Saya sebagai perempuan sangat menyuarakan kesetaraan bukan menganggap perempuan yang lebih superior apalagi inferior dari laki-laki. Jangan salah menangkap, ya.. 

Seperti yang mas pacar
katakan, sudah kodratnya bahwa perempuan dan laki-laki itu berbeda. Dalam menentukan siapa yang lebih unggul dibanding yang lain, kita harus melihat konteksnya dulu seperti apa, karena bagaimana pun hidup ini merupakan keseimbangan. Jika berkata tentang "kekuatan", dalam mengangkut bahan-bahan bangunan bisa jadi laki-laki lebih unggul, tetapi jika konteksnya dalam melahirkan bisa jadi perempuan lebih unggul. Meskipun demikian, semua itu dikembalikan lagi pada kepribadian masing-masing karena karakter dari tiap-tiap orang itu berbeda-beda. Jika harus merujuk pada sumber, saya membaca buku karya Elaine Showalter yang berjudul "A Literature of Their Own", muncul suatu istilah female, feminine, dan feminism. Female atau pun Male itu merujuk pada hal yang kodrati, karena secara biologis kita tidak bisa memilih (maaf) mau berpenis atau bervagina, kemudian Feminine dan Masculine merujuk pada kultur, psikis, dan sosial yang membentuk pribadi seseorang, apakah kita memilih menjadi "laki-laki" atau "perempuan", meskipun maknanya terkadang bias, contohnya pada anggapan masyarakat yang melegitimasi pink identik dengan perempuan dan biru identik dengan laki-laki. Awalnya saya beranggapan hal yang sama, tapi mas pacar menyanggah bahwa di zaman dahulu pink itu identik dengan laki-laki sedangkan biru identik dengan perempuan, kamu bisa baca jurnalnya di sini. Sudah bukan hal yang perlu kita ributkan jika seseorang memilih ingin menjadi "laki-laki" maupun "perempuan" selama ketentraman dalam berbangsa dan bernegara itu masih terjalin bukan? Yang terakhir adalah feminism atau feminisme, dalam bahasa Indonesia jika ada kata berimbuhan -isme, itu berarti menjadi sebuah "paham". Dalam KBBI istilah feminisme berarti sebuah gerakan perempuan yang menuntut persamaan hak sepenuhnya antara kaum perempuan dan laki-laki. Memang jika harus berkata feminisme akan selalu ada pro dan kontra bahkan antara saya (yang mencoba berpikir dari dua sisi) dan mas pacar (yang cenderung konservatif dan ekstrimis jika memandang hal yang kodrati) sudah lain pandangannya jika membicarakan hal ini. Tetapi, menarik jika membicarakannya, meskipun terkadang baper karena pandangan tiap-tiap orang juga berbeda.

Menurut saya, sudah saatnya perempuan memiliki hak yang sama dengan laki-laki (kalau saya masih melihat dari konteksnya dulu seperti apa) seperti hak suara, hak memilih, hak memimpin, hak untuk hidup, hak untuk bebas, hak berpendidikan, dan lain sebagainya, atau setidaknya jangan menganggap kami lemah atau sebagai warga kelas dua yang tidak punya kendali apa pun.

No comments:

Post a Comment

© Asri Nuranisa Dewi
Blogger Template Designed by pipdig